‘Menjawab’ Al-Akh Sudirman Az

  • Whatsapp
banner 468x60

OPINI — Sebelumnya saya stressing bahwa tulisan ini sekedar menjawab rilis berita dari media online Kabar Sulbar yang berjudul Pengurus Wilayah GP. Ansor Sulbar “Tolak” kehadiran Ust. Firanda di Tanah Mandar.

Saya dan beliau juga tak ada masalah. Beliau saya anggap sebagai saudara sendiri apalagi masih dr satu rumpun yang sama. Beberapa kali beliau bertanya dan berkirim salam kepada orang tua saya, pun sebaliknya. Hafidzahullah…

Pertama, ketika membaca 10 poin yang dijadikan sebagai ciri Radikalisme, saya kesulitan memahami siapa kelompok yang dimaksud. Itu karena beliau juga tak menyebutkan siapa, dan kitapun sulit mencari kelompok yang mempraktekan beberapa ciri yang disebutkan. Misalnya saja pada poin 1, bahwa cirinya adalah selalu mengajak kembali langsung kepada Al-Qur’an dan Hadits, tanpa ittiba’ (mengikuti) pendapat para ulama. Menurut saya ini mustahil ada. Semua kajian Al Quran dan Hadits pasti akan selalu merujuk pada penjelasan ulama.

Kedua, beberapa kriteria yang disebutkan sebagai radikal terkesan dipaksakan. Misalnya pada poin 5 dengan mengatakan jenggot, cingkrang celana, brukut jilbab, sebagai perkara sunnah yang seolah dianggap wajib. Padahal kewajiban atas perkara² itu sudah disebutkan oleh para ulama mu’tabarah. Jenggot misalnya. Ulama Mazhab Syafii sekelas Imam An Nawawi bahkan melarang untuk sekedar memangkasnya. Lalu mengapa ini seolah hal baru bahkan dijadikan ciri radikalisme..?

Ketiga, beliau banyak menyebutkan persoalan² furu’iyah (cabang agama) sebagai ciri radikalisme. Padahal tak ada salahnya berbeda secara furu’. Imam Ahmad dan Imam Syafii berbeda soal qunut, ukhuwahnya tetap terjaga. Tak ada yang saling melabeli dengan laqob-laqob buruk.

Terkait Ustadz Firanda yang akan datang ke Polman atas prakarsa Polres Polman, justru seharusnya ini dijadikan bahan pertimbangan untuk menilai. Tentu kepolisian sebagai alat negara dan infrastruktur yg memadai akan tau siapa dan bagaimana sang ustadz. Mereka lebih tau daripada kita. Bahkan Arab Saudi yang terkenal sangat ketat mengawasi faham-faham radikal dan mengganjar hukuma mati bagi pelakunya, mempercayakan belia sebagai salah satu pengajar di Masjid Nabawi.

Kalaupun ada pendapat² beliau yang tak cocok dengan pemahaman kita misalnya tentang status keimaman orang tua Rasulullah shallaallahu alayhi wa Sallam, maka menurut saya tak perlu berlebihan menyikapinya. Toh itu bukan pendapat pribadi beliau tapi didukung oleh dalil-dalil yang kuat dan pendapat para ulama Islam yang mu’tabaroh. Saya pernah menonton diskusi beliau dengan salah seorang ulama NU, KH. Idrus Ramli. Terhadap persoalan² khilafiyah, bahkan ustadz Firanda tak ingin mempertajam perseleisihan.

Saya bukan murid Ustadz Firanda, dan tidak berada pada kelompok atau organisasi dakwahnya. Tapi keadilan termasuk dalam persepsi adalah hak semua dan kita setara di dalamnya. Radikalisme harusnya didudukkan secara proporsional agar masyarakat tak salah faham dan serampangan menilai satu kelompok.

Oleh: M. Yamin Saleh, SH., M.AP. Wakil Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat

# Love_Ukhuwah
# Islam_RahmatanLilAlamin

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *