Puluhan Hektare Tanaman Padi Petani di Kalukku Gagal Panen

  • Whatsapp
banner 468x60

MAMUJU, RAKYATTA.CO — Hujan yang tidak turun sejak beberapa bulan terakhir menyebabkan kekeringan di sejumlah tempat di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Di Kecamatan Kalukku, kekeringan yang terjadi menyebabkan kerusakan tanaman padi petani.

Pantauan media ini, Senin (23/9/2019), di wilayah Desa Beru-Beru Kecamatan Kalukku, tanaman padi petani yang sebagian baru keluar buah tampak sudah menguning, kering dan beberapa sudah mati dan jadi lahan menambat ternak sapi.

Salah seorang petani yang diajak berbincang mengatakan, diperkirakan lahan sawah yang mengalami kondisi seperti itu di Desa Beru-Beru mencapai puluhan hektare.

“Itu yang buahnya belum keluar dan tidak kena air lagi seperti yang di depan ini. Itu memang sudah ditinggalkan, ” kata Sriutami, salah seorang pemilik sawah saat di temui di rumahnya di sebuah areal persawahan di RT 3 Desa Beru-Beru, Senin Siang.

Kepada media ini, Sriutami menunjukkan beberapa petak sawah yang tanaman padinya memang sudah kering.

Kata Sriuatami, tanaman padi yang rusak itu ditanama pada pertengahan atau akhir bulan Juli. Sementara petani yang menanam pada bulan sebelumnya, kata dia, masih sempat panen sebelum kekeringan.

Sriutami dan suaminya sendiri mengaku memiliki beberapa petak sawah di lokasi yang berbeda. Kata dia, tanaman padi miliknya ada yang dipastikan sudah tidak akan bisa dipanen lagi, juga ada yang sementara masih diusahakan dengan jalan memompa air dari sumur yang kadang airnya juga habis.

“Iya, airnya biasa habis. Jadi kalau sudah begitu kita ganti pake mesin (bahan bakar) tabung gas. Pipanya lebih kecil jadi airnya masih bisa disedot,” tutur Sriutami.

Namun memompa air dari sumur menggunakan alkon dengan mesin diesel berbahan bakar solar dan gas seperti yang dilakukan Sriutami dan suaminya Meldi, membutuhkan biaya tambahan.

Ia mengatakan, sudah dua bulan lebih mesin pompa air yang terpasang di depan rumahnya beroperasi setiap hari. Sehingga kata dia, jika dihitung-hitung mulai dari sejak mengolah tanah sampai sekarang dengan buah padi yang baru mulai keluar, modal yang dikeluarkan sudah memcapai puluhan juta.

Untuk sewa tanam saja sebutnya, jumlah modal yang dikeluarkan sudah mencapai empat juta dua ratus ribu. Belum harga pupuk dan oba-obatan. Sekarang harus keluar biaya bahan bakar mesin pompa air yang beroperasi hampir setiap hari. Sementara untuk bisa panen, lanjutnya, butuh waktu sekitar dua bulan lagi.

“Saya kasi tahu bapakanya (suami-red) yang masih bisa diselmatkan kita usahakan. Biar tidak untung, setidaknya masih ada yang bisa diambil dan kalau bisa balik modal, karena kalau tidak balik modal, untuk musim tanam selanjutnya kita tidak ada modal lagi,” katanya.

*Harga Mulai Naik

Rukman, salah seorang warga Desa Kabuloang Kecamatan Kalukku mengatakan, musim kemarau yang terjadi tahun ini dampaknya meski belum terlalu signifikan namun mulai berpengaruh pada naiknya harga beras dan harga-harga hasil pertanian lainnya.

“Sudah bergeser (harga beras) tapi belum terlalu tinggi, ini tentu pengaruhnya sawah petani yang banyak gagal panen,” kata Rukman.

Bakri salah seorang peternak ayam di Mamuju juga merasakan hal yang sama. Ia mengatakan, pakan ternak dari produk pertanian seperti jagung dan bekatul atau dedak kini juga sulit didapatkan.

“Kalaupun ada harganya mahal,” kata Bakri.

Kepada media ini ia berharap kondisi petani dan peternak yang kini merasakan dampak kemarau dan kekeringan yang juga terjadi di Mamuju dapat didengar dan diraskan kesulitannya oleh pemerintah. (Muh. Gufran Padjalai)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *