MAMUJU – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Barat mengapresiasi program Jumat Keliling yang digagas Kapolda Sulbar, Irjen Pol Totok Suharyanto. Program ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedekatan kepolisian dengan masyarakat sekaligus membangun keamanan berbasis pendekatan kultural.
Ketua FKUB Sulbar, Nur Salim Ismail, mengatakan bahwa kehadiran polisi di tengah masyarakat membuka ruang dialog untuk memahami persoalan sosial, mendeteksi potensi kriminalitas, serta merumuskan langkah pencegahan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.
“Kita tentu mengapresiasi langkah yang digalakkan oleh Polda Sulbar. Harapannya, gerakan ini bukan sebatas program, tetapi menjadi kebiasaan yang terus tumbuh hingga menjadi budaya, bahkan karakter insan kepolisian, khususnya di Sulawesi Barat,” ujar Nur Salim.
Menurutnya, pendekatan kultural di tingkat akar rumput (grassroots) merupakan modal penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Melalui dialog dan silaturahmi, kepolisian dapat membangun kepercayaan masyarakat, menyerap aspirasi, serta mengidentifikasi persoalan sebelum berkembang menjadi gangguan kamtibmas.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan generasi muda dalam upaya pencegahan. Di Sulawesi Barat yang kaya akan keragaman agama dan budaya, kekuatan sosial tersebut dapat menjadi mitra strategis kepolisian dalam merawat kerukunan dan mencegah konflik.
“Keamanan tidak hanya dibangun melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui kepercayaan dan partisipasi masyarakat. Ketika polisi memahami budaya dan kehidupan warga, upaya pencegahan akan lebih tepat sasaran dan mendapat dukungan masyarakat,” tegasnya.
Nur Salim berharap program Jumat Keliling dilaksanakan secara konsisten dan berkembang menjadi budaya pelayanan kepolisian. Dengan demikian, keamanan dan ketertiban menjadi tanggung jawab bersama yang tumbuh dari kesadaran masyarakat, bukan semata-mata karena kehadiran aparat.









