MAMUJU — Ada yang berbeda dalam rangkaian persiapan Hari Jadi Mamuju ke-485 yang akan digelar 14 Juli 2025. Bupati Mamuju, Dr. Hj. Sitti Sutinah Suhardi, memilih cara yang lebih personal dan penuh makna dengan mengunjungi langsung para mantan bupati Mamuju untuk bersilaturahmi sekaligus mengantarkan undangan resmi acara tahunan tersebut.
Iklan Bersponsor Google
Langkah ini tidak hanya mencerminkan etika politik yang elegan, tetapi juga menjadi simbol penghargaan atas jasa-jasa para pemimpin terdahulu dalam membangun daerah. Kunjungan dimulai dari kediaman H. Almalik Pababari, Bupati Mamuju periode 1999–2004, yang kini aktif sebagai anggota DPD RI. Meski singkat, pertemuan berlangsung akrab dan penuh tawa, menandai kuatnya ikatan emosional lintas generasi kepemimpinan di Mamuju.
Selanjutnya, rombongan yang juga diisi oleh Wakil Bupati Yuki Permana, Sekda H. Suaib, dan Kepala Dinas Pariwisata, bertandang ke kediaman Drs. H. Habsi Wahid, MM, mantan Bupati periode 2016–2021. Sambutan hangat pun diberikan, bahkan Habsi menyebut kedatangan Bupati saat ini sebagai “penghormatan besar” yang tak akan dilupakannya. Ia pun berjanji akan hadir dalam sidang paripurna DPRD sebagai pembuka Hari Jadi Mamuju nanti.
Puncak dari kunjungan ini ditutup dengan nuansa emosional saat Sutinah dan rombongan menyambangi Gubernur Sulbar yang juga ayah kandungnya, Dr. H. Suhardi Duka (SDK), yang dua kali menjabat sebagai Bupati Mamuju (2005–2015). Percakapan berlangsung hangat, bukan hanya sebagai ayah dan anak, tetapi juga sebagai dua tokoh politik yang saling mengisi sejarah pemerintahan di daerah ini.
Dalam keterangannya, Sutinah menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghargaan dan pelestarian budaya silaturahmi yang akan ia tetapkan sebagai tradisi tahunan. Menurutnya, mengirim undangan hanya melalui staf atau perangkat daerah tidak cukup merepresentasikan niat baik pemerintah terhadap para mantan pemimpin yang telah berjasa membangun Mamuju.
Langkah ini patut diapresiasi. Di tengah kerasnya kontestasi politik yang kadang melupakan nilai-nilai persaudaraan, apa yang dilakukan oleh Sutinah Suhardi adalah contoh bahwa keberlanjutan pembangunan juga memerlukan keberlanjutan etika dan penghargaan. Jika tradisi ini terus dijaga, maka Mamuju tidak hanya akan tumbuh dalam pembangunan fisik, tetapi juga matang dalam kedewasaan demokrasi dan budaya pemerintahan yang beradab.
Iklan Google AdSense