Iklan Google AdSense

‘Menjawab’ Al-Akh Sudirman Az

- Jurnalis

Sabtu, 31 Agustus 2019 - 05:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI — Sebelumnya saya stressing bahwa tulisan ini sekedar menjawab rilis berita dari media online Kabar Sulbar yang berjudul Pengurus Wilayah GP. Ansor Sulbar “Tolak” kehadiran Ust. Firanda di Tanah Mandar.

Iklan Bersponsor Google

Saya dan beliau juga tak ada masalah. Beliau saya anggap sebagai saudara sendiri apalagi masih dr satu rumpun yang sama. Beberapa kali beliau bertanya dan berkirim salam kepada orang tua saya, pun sebaliknya. Hafidzahullah…

Pertama, ketika membaca 10 poin yang dijadikan sebagai ciri Radikalisme, saya kesulitan memahami siapa kelompok yang dimaksud. Itu karena beliau juga tak menyebutkan siapa, dan kitapun sulit mencari kelompok yang mempraktekan beberapa ciri yang disebutkan. Misalnya saja pada poin 1, bahwa cirinya adalah selalu mengajak kembali langsung kepada Al-Qur’an dan Hadits, tanpa ittiba’ (mengikuti) pendapat para ulama. Menurut saya ini mustahil ada. Semua kajian Al Quran dan Hadits pasti akan selalu merujuk pada penjelasan ulama.

Kedua, beberapa kriteria yang disebutkan sebagai radikal terkesan dipaksakan. Misalnya pada poin 5 dengan mengatakan jenggot, cingkrang celana, brukut jilbab, sebagai perkara sunnah yang seolah dianggap wajib. Padahal kewajiban atas perkara² itu sudah disebutkan oleh para ulama mu’tabarah. Jenggot misalnya. Ulama Mazhab Syafii sekelas Imam An Nawawi bahkan melarang untuk sekedar memangkasnya. Lalu mengapa ini seolah hal baru bahkan dijadikan ciri radikalisme..?

Baca Juga :  Musda HIPMI Sulbar: Momentum Regenerasi, Bukan Ajang Transaksional

Ketiga, beliau banyak menyebutkan persoalan² furu’iyah (cabang agama) sebagai ciri radikalisme. Padahal tak ada salahnya berbeda secara furu’. Imam Ahmad dan Imam Syafii berbeda soal qunut, ukhuwahnya tetap terjaga. Tak ada yang saling melabeli dengan laqob-laqob buruk.

Terkait Ustadz Firanda yang akan datang ke Polman atas prakarsa Polres Polman, justru seharusnya ini dijadikan bahan pertimbangan untuk menilai. Tentu kepolisian sebagai alat negara dan infrastruktur yg memadai akan tau siapa dan bagaimana sang ustadz. Mereka lebih tau daripada kita. Bahkan Arab Saudi yang terkenal sangat ketat mengawasi faham-faham radikal dan mengganjar hukuma mati bagi pelakunya, mempercayakan belia sebagai salah satu pengajar di Masjid Nabawi.

Baca Juga :  Haji Sebagai Inspirasi Peruban

Kalaupun ada pendapat² beliau yang tak cocok dengan pemahaman kita misalnya tentang status keimaman orang tua Rasulullah shallaallahu alayhi wa Sallam, maka menurut saya tak perlu berlebihan menyikapinya. Toh itu bukan pendapat pribadi beliau tapi didukung oleh dalil-dalil yang kuat dan pendapat para ulama Islam yang mu’tabaroh. Saya pernah menonton diskusi beliau dengan salah seorang ulama NU, KH. Idrus Ramli. Terhadap persoalan² khilafiyah, bahkan ustadz Firanda tak ingin mempertajam perseleisihan.

Saya bukan murid Ustadz Firanda, dan tidak berada pada kelompok atau organisasi dakwahnya. Tapi keadilan termasuk dalam persepsi adalah hak semua dan kita setara di dalamnya. Radikalisme harusnya didudukkan secara proporsional agar masyarakat tak salah faham dan serampangan menilai satu kelompok.

Oleh: M. Yamin Saleh, SH., M.AP. Wakil Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Barat

# Love_Ukhuwah
# Islam_RahmatanLilAlamin

Iklan Google AdSense

Berita Terkait

Polisi Juga Manusia: Di Balik Seragam, Ada Hati yang Tulus Mengabdi
Musda HIPMI Sulbar: Momentum Regenerasi, Bukan Ajang Transaksional
APBD SERTA PUBLIC VALUE
Haji Sebagai Inspirasi Peruban
Miranti Serad Ginanjar Rayakan Usia 56 Tahun dengan Keanekaragaman Budaya Sulbar
Pria dengan Rakit Bambu dan Galon Air di Laut, Bertekad “OTW Mekkah”
Delapan Tahun Mengabdi untuk Sulawesi Barat: Sebuah Ucapan Terima Kasih dan Harapan dari Sosok Kombes Pol Iskandar
Halim Optimistis Pasangan ADAMI Menang di Pilkada Mamuju
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 29 Agustus 2025 - 22:39 WIB

Polisi Juga Manusia: Di Balik Seragam, Ada Hati yang Tulus Mengabdi

Senin, 30 Juni 2025 - 11:13 WIB

Musda HIPMI Sulbar: Momentum Regenerasi, Bukan Ajang Transaksional

Kamis, 26 Juni 2025 - 17:50 WIB

APBD SERTA PUBLIC VALUE

Kamis, 5 Juni 2025 - 20:35 WIB

Haji Sebagai Inspirasi Peruban

Rabu, 19 Maret 2025 - 11:44 WIB

Miranti Serad Ginanjar Rayakan Usia 56 Tahun dengan Keanekaragaman Budaya Sulbar

Berita Terbaru