Ketua MUI Mamasa Abdul Hafid Tegas Tolak Kementerian Kepolisian: Polri Harga Mati Tetap di Bawah Presiden

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAMASA – Wacana pembentukan Kementerian Kepolisian menuai gelombang penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Salah satu penolakan tegas datang dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mamasa, Abdul Hafid, S.H., M.H. Ia menegaskan bahwa Polri harus tetap berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia, sesuai amanat konstitusi dan semangat reformasi.

Menurut Abdul Hafid, gagasan membentuk Kementerian Kepolisian justru berpotensi melemahkan independensi Polri serta membuka ruang tarik-menarik kepentingan politik yang dapat mengganggu profesionalisme aparat penegak hukum.

“Kami dengan tegas menolak pembentukan Kementerian Kepolisian. Polri harus tetap berada di bawah Presiden, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Ini penting untuk menjaga netralitas dan profesionalisme Polri,” tegas Abdul Hafid, Selasa (…).

Ia menilai, menempatkan Polri di bawah kementerian tertentu akan menciptakan lapisan birokrasi baru yang justru memperlambat pengambilan keputusan strategis, terutama dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.

Lebih jauh, Abdul Hafid mengingatkan bahwa sejarah reformasi telah mengajarkan pentingnya memisahkan Polri dari pengaruh politik praktis. Reformasi kepolisian bertujuan menjadikan Polri sebagai institusi yang mandiri, profesional, dan berorientasi pada pelayanan publik, bukan kepentingan kekuasaan.

“Kalau Polri ditarik ke dalam struktur kementerian, maka ada potensi intervensi politik. Ini berbahaya bagi demokrasi dan keadilan hukum,” ujarnya.

Ketua MUI Mamasa itu juga mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan akademisi untuk bersuara kritis menolak kebijakan yang dinilai dapat mencederai tatanan ketatanegaraan.

Menurutnya, fokus utama yang seharusnya dilakukan pemerintah adalah memperkuat kinerja Polri, meningkatkan kesejahteraan anggota, serta membenahi sistem pengawasan internal agar kepercayaan publik terus meningkat.

“Bukan dengan membentuk kementerian baru, tetapi memperbaiki sistem yang sudah ada. Polri harus kuat, profesional, dan tetap berada langsung di bawah Presiden,” pungkas Abdul Hafid.

Pernyataan Ketua MUI Mamasa ini menambah daftar panjang suara penolakan terhadap wacana Kementerian Kepolisian, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat menginginkan Polri yang independen, netral, dan berpegang teguh pada konstitusi.

Berita Terkait

IJS Sulbar Perkuat Sinergi Lewat Raker
Satpol PP Mamuju Disorot, IJS Sulbar Singgung Dugaan Anggaran Fiktif Rp1,1 Miliar
Siamasei Band Guncang Mall Matos Mamuju, Pengunjung Malam Minggu Terhibur
Kisah Warga Kopeang Melahirkan di Jalan, Indikasi Pentingnya Integrasi dan Sinergitas Layanan Kedokteran Kepolisian bagi Warga Marginal
Dari Kuli Tinta ke Pengacara, Imanuddin SH Dijuluki “Hotman Sulbar”
Bakti Kesehatan Polda Sulbar di Kopeang, Dukung Transformasi Kesehatan Menuju Indonesia Emas
Medivac ABK di Perairan Mamuju, Tim SAR Evakuasi dari Kapal Asing
Kareg Sulbar Tegas: Suspend SPPG Untuk Perbaikan Program MBG
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 16:36 WIB

IJS Sulbar Perkuat Sinergi Lewat Raker

Kamis, 28 Mei 2026 - 23:20 WIB

Satpol PP Mamuju Disorot, IJS Sulbar Singgung Dugaan Anggaran Fiktif Rp1,1 Miliar

Sabtu, 23 Mei 2026 - 18:57 WIB

Siamasei Band Guncang Mall Matos Mamuju, Pengunjung Malam Minggu Terhibur

Jumat, 24 April 2026 - 19:01 WIB

Kisah Warga Kopeang Melahirkan di Jalan, Indikasi Pentingnya Integrasi dan Sinergitas Layanan Kedokteran Kepolisian bagi Warga Marginal

Kamis, 23 April 2026 - 20:36 WIB

Dari Kuli Tinta ke Pengacara, Imanuddin SH Dijuluki “Hotman Sulbar”

Berita Terbaru

Advertorial

Survei Terravox: Kepuasan Publik terhadap SDK Tembus 81,5 Persen

Kamis, 4 Jun 2026 - 15:11 WIB