MAMUJU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mulai mengakselerasi langkah konkret dalam menghadapi ancaman bencana gempa bumi. Melalui pendampingan strategis Biro Pemkesra Setda Sulbar, pertemuan penting digelar bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) dan BPBD Sulbar pada Rabu (1/4/2026), membahas implementasi proyek demonstrasi sistem seismometer canggih di Mamuju.
Agenda ini menjadi titik awal penguatan sistem mitigasi berbasis teknologi di wilayah yang dikenal memiliki kerawanan seismik tinggi. Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, hadir langsung memimpin pertemuan tersebut, didampingi Kepala Biro Pemkesra, Murdanil, serta jajaran terkait.
Kolaborasi ini tidak sekadar menghadirkan alat pendeteksi gempa, tetapi menjadi bagian dari strategi besar membangun sistem peringatan dini yang lebih responsif dan akurat. Teknologi seismometer dari JICA diproyeksikan menjadi model percontohan yang mampu meningkatkan kesiapsiagaan daerah secara signifikan.
Kepala Biro Pemkesra Setda Sulbar, Murdanil, menegaskan bahwa aspek kesejahteraan masyarakat tidak bisa dilepaskan dari rasa aman terhadap ancaman bencana. Menurutnya, kehadiran teknologi ini merupakan bentuk nyata pelayanan pemerintah.
“Kami sepenuhnya mendukung inisiatif ini. Ini bukan sekadar pemasangan alat, tetapi komitmen menghadirkan perlindungan bagi masyarakat. Sinergi teknologi internasional dengan kesiapan daerah adalah kunci harmoni pembangunan Sulbar,” tegas Murdanil.
Sementara itu, Gubernur Suhardi Duka menilai kerja sama dengan JICA sebagai langkah strategis dalam memperkuat fondasi pembangunan daerah. Ia menekankan bahwa ketangguhan terhadap bencana menjadi prioritas utama dalam visi pembangunan Sulbar tahun 2026.
“Sulbar harus siap menghadapi tantangan alam. Kolaborasi global seperti ini menjadi kunci untuk memastikan masyarakat kita lebih aman dan pembangunan tetap berkelanjutan,” ujar Gubernur.
Pemerintah berharap integrasi sistem seismometer ini mampu meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa. Dukungan semua pihak dinilai penting agar proyek ini berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi keselamatan warga.
Dengan langkah ini, Sulawesi Barat menegaskan komitmennya untuk tidak lagi sekadar reaktif terhadap bencana, tetapi bertransformasi menjadi daerah yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi risiko sejak dini.










