MAMUJU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, Rabu 20 Mei 2026, dengan penuh khidmat. Peringatan yang dipimpin langsung Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka itu menjadi momentum penting untuk mengenang lahirnya kesadaran nasional bangsa Indonesia sekaligus memperkuat semangat persatuan di tengah tantangan zaman.
Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei untuk mengenang berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi tersebut didirikan oleh Dr. Sutomo bersama para mahasiswa STOVIA dan menjadi tonggak awal tumbuhnya nasionalisme bangsa Indonesia melawan penjajahan.
Dalam sambutannya, Suhardi Duka menegaskan bahwa Kebangkitan Nasional merupakan titik awal munculnya kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu sebagai satu bangsa.
“Itu mulai tumbuh-tumbuhnya embrio kesadaran tentang berbangsa. Indonesia dijajah karena raja-raja berkelahi sendiri. Tahun 1908 mulai muncul kesadaran bahwa kita dijajah dan dihadapkan satu sama lain. Dari situlah muncul gagasan untuk hidup bersama-sama dan lahirlah Kebangkitan Nasional,” ujar Suhardi Duka.
Menurutnya, semangat persatuan itu terus berkembang hingga melahirkan peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan akhirnya mengantarkan Indonesia menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Gubernur Sulbar juga menyoroti kuatnya identitas bangsa Indonesia yang mampu menyatukan berbagai suku, budaya, dan bahasa melalui penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
“Kalau kita bahasa resminya hanya Indonesia. Paling dipadukan dengan bahasa daerah. Itu yang membuat persatuan kita kuat,” katanya.
Ia pun membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara yang masih memiliki pemisahan identitas berdasarkan etnis dan bahasa dalam sistem pendidikan maupun kehidupan sosial masyarakat.
Selain mengajak masyarakat menjaga persatuan, Suhardi Duka juga mendorong warga Sulbar untuk bangga terhadap kemajuan Indonesia di berbagai sektor strategis, mulai dari teknologi hingga industri pertahanan nasional.
“Di ASEAN saya kira kita lebih maju. Kita bisa bikin pesawat terbang, kapal, bahkan kapal perang. Kita juga bisa membuat senjata dan lain sebagainya. Banggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang besar ini,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan pentingnya memperbaiki budaya negatif yang masih berkembang di tengah masyarakat, seperti praktik gratifikasi dan sogok menyogok yang dinilai telah tumbuh sejak masa kerajaan melalui sistem upeti.
Peringatan Harkitnas ke-118 di Sulawesi Barat menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat nasionalisme, menjaga persatuan, serta meneguhkan komitmen membangun Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing.










