MAMUJU – Kekhawatiran terhadap perilaku anak dan remaja di ruang digital kembali mengemuka. PS Kasatgaswil Sulawesi Barat Densus 88 AT Polri, AKBP Soffan Ansyari, turun langsung menemui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (DiskominfoSS) Sulbar untuk membahas maraknya penggunaan media sosial dan gim daring yang belum layak bagi anak di bawah umur.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor DiskominfoSS Sulbar, Kamis (12/2/2026), menjadi sinyal kuat bahwa ancaman di ruang digital tak bisa lagi dipandang sebelah mata. AKBP Soffan menyoroti kecenderungan anak-anak yang belum bijak dalam menggunakan media sosial, di tengah derasnya arus informasi tanpa filter.
“Arus informasi sangat cepat, tapi belum diimbangi kemampuan literasi digital yang memadai. Ini yang menjadi celah,” tegas Soffan.
Ia juga menyinggung paparan gim daring dengan konten yang tidak sesuai usia. Menurutnya, jika tidak diawasi secara serius, kondisi ini dapat memengaruhi pola pikir, karakter, hingga perilaku generasi muda Sulawesi Barat.
Lebih jauh, Soffan mengingatkan bahwa pengawasan tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, hingga komunitas masyarakat untuk menciptakan ruang digital yang aman dan sehat.
“Edukasi dan pendampingan harus diperkuat. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala DiskominfoSS Sulbar Muhammad Ridwan Djafar menyambut baik inisiatif Densus 88. Ia menilai misi tersebut sejalan dengan prioritas DiskominfoSS dalam meningkatkan literasi digital masyarakat sebagai bagian dari dukungan terhadap panca daya Gubernur Sulbar, Suhardi Duka.
Menurut Ridwan, tantangan digital saat ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan aparat, sekolah, orang tua, dan komunitas.
“Kami mendukung penuh langkah ini dan siap berkolaborasi agar edukasi digital bisa menjangkau masyarakat lebih luas,” tegas Ridwan.
Sebagai langkah konkret, DiskominfoSS Sulbar mengoptimalkan program Sekolah Internet Komunitas Informasi Masyarakat (Senter KIM). Program ini menyasar seluruh elemen masyarakat, termasuk pelajar, dengan pendekatan literasi digital, kemampuan penyaringan informasi (filtering), serta kampanye penggunaan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab.
Kolaborasi antara Densus 88 dan DiskominfoSS Sulbar diharapkan menjadi benteng awal dalam menghadapi ancaman konten negatif, radikalisme digital, hingga penyalahgunaan teknologi di kalangan anak dan remaja.
Langkah ini menjadi pesan tegas bahwa ruang digital bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Jika tidak dijaga bersama, generasi muda bisa menjadi korban. Namun jika dikelola dengan literasi dan kolaborasi, dunia digital justru dapat menjadi sarana membangun masa depan Sulawesi Barat yang lebih cerdas dan berdaya saing.










