MAMUJU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menegaskan komitmennya mempercepat hilirisasi komoditas unggulan sebagai strategi meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar, Junda Maulana, saat membuka Sandeq Business, Investment and Economic (SAQBE) Forum 2026 yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat di Ballroom Grand Maleo Hotel, Mamuju, Senin (29/6/2026).
Mengusung tema “Percepatan Hilirisasi Komoditas Unggulan untuk Meningkatkan Nilai Tambah, Stabilitas, dan Daya Saing Ekonomi Sulawesi Barat”, forum tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, pelaku usaha, akademisi, hingga organisasi nonpemerintah (NGO) untuk merumuskan arah pembangunan ekonomi daerah.
Junda Maulana mengatakan, SAQBE Forum memiliki peran strategis karena menghimpun berbagai gagasan dan masukan dari seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, rekomendasi yang dihasilkan akan menjadi bahan penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
“Forum ini menerima ide dan gagasan dari pemerintah, dunia usaha, pelaku usaha, akademisi hingga NGO. Nantinya rekomendasi yang dirumuskan akan menjadi bahan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan,” ujar Junda.
Ia menjelaskan, kondisi ekonomi global yang masih dipengaruhi berbagai dinamika, termasuk konflik di Timur Tengah, menjadi tantangan yang harus diantisipasi. Meski demikian, perekonomian Sulawesi Barat tetap menunjukkan kinerja positif dengan tingkat inflasi sebesar 1,99 persen, masih berada dalam rentang target nasional, serta pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3 persen.
Namun demikian, Junda menekankan bahwa tantangan terbesar ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Yang menjadi tantangan kita adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi ini benar-benar dinikmati masyarakat. Karena itu forum ini diharapkan melahirkan gagasan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” katanya.
Sebagai upaya memperkuat struktur ekonomi daerah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat terus mendorong pengembangan industri pengolahan berbasis komoditas unggulan. Komoditas seperti kakao, kopi, hasil pertanian, hingga sektor perikanan diarahkan untuk diproses menjadi produk bernilai tambah sehingga tidak lagi dipasarkan hanya sebagai bahan baku.
Menurut Junda, hilirisasi menjadi kunci dalam menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berkembangnya industri pengolahan skala kecil maupun menengah.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemprov Sulbar di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka (SDK) telah menyiapkan program penguatan sektor perkebunan, termasuk penyediaan 16 juta bibit kakao serta bibit kopi untuk mengembalikan kejayaan Sulawesi Barat sebagai salah satu sentra penghasil kakao nasional.
“Kita ingin mengembalikan Sulawesi Barat sebagai penghasil kakao. Kita sudah menyiapkan 16 juta bibit kakao, termasuk bibit kopi. Selama ini pertumbuhan ekonomi kita masih didominasi satu sektor, bahkan satu komoditas yaitu sawit. Potensi lain harus kita dorong agar ikut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Junda.










