MAMUJU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggelar tahlilan dan doa bersama untuk almarhum Wakil Gubernur Sulbar, Mayjen TNI (Purn) Salim S Mengga, Kamis malam, 5 Februari 2026, di Rumah Jabatan Gubernur Sulbar. Suasana khidmat menyelimuti kegiatan yang menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi sosok yang dinilai langka dalam sejarah kepemimpinan Sulbar.
Tahlilan dipimpin dalam suasana penuh haru, dengan tausyiah disampaikan oleh Annaguru Muhasib Kamaludin. Ratusan jamaah yang hadir larut dalam doa, mengenang keteladanan almarhum yang dikenal teguh, sederhana, dan berintegritas tinggi.
Dalam sambutannya, Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) mengenang perjalanan panjang kebersamaannya dengan almarhum, jauh sebelum keduanya memimpin Sulawesi Barat. SDK mengungkapkan, hubungan mereka terbangun sejak sama-sama berada di Jakarta sebagai tokoh nasional.
Saat masih menjabat anggota DPR RI, Suhardi Duka kerap berdiskusi dan bertukar pikiran dengan Salim S Mengga. Banyak pertemuan diisi dengan pembahasan mendalam tentang persoalan dan masa depan Sulawesi Barat.
“Dari diskusi-diskusi itulah akhirnya kami sepakat untuk kembali dan membangun daerah. Bukan karena ambisi jabatan, tapi karena keprihatinan,” ujar Suhardi Duka dengan suara bergetar.
SDK mengakui, saat itu dirinya sudah merasa nyaman berada di DPR RI. Begitu pula almarhum Salim S Mengga yang sebenarnya telah merencanakan pensiun dan menetap di Jakarta bersama keluarga.
Namun, keprihatinan terhadap kondisi Sulbar menjadi titik balik keputusan besar tersebut.
“Beliau bilang ke saya, kalau kau cintai daerahmu, kembali ke daerahmu. Itu pesan yang sampai hari ini saya pegang,” kenang SDK.
Hampir satu tahun kebersamaan memimpin Sulawesi Barat, menurut SDK, meninggalkan kesan mendalam. Ia mengaku banyak belajar dari sosok almarhum, terutama soal integritas, kejujuran, dan memegang teguh kepercayaan.
Di hadapan jamaah tahlilan, Suhardi Duka menyebut almarhum sebagai figur pemimpin yang membalas kepercayaan dengan kualitas yang berlipat.
“Satu kali saya hargai Pak Salim, satu kali saya beri kepercayaan, dia balas ke saya dua kali. Itu hebatnya. Padahal beliau kakak saya setahun,” ungkapnya.
SDK juga menceritakan momen paling berat dalam hidupnya sebagai gubernur, yakni saat menerima kabar wafatnya Salim S Mengga. Ia mengaku benar-benar terpukul dan nyaris tak sanggup berdiri.
“Saya benar-benar susah berdiri. Beliau bukan hanya orang baik, istrinya juga sangat baik. Dari beliau kita belajar tentang integritas dan kejujuran. Jadi pantas kalau Sulbar merasa sangat kehilangan,” ucap SDK.
Bagi Suhardi Duka, kepergian Salim S Mengga bukan sekadar kehilangan seorang wakil gubernur. Ia menegaskan, Sulawesi Barat kehilangan sosok langka, yang mungkin tidak akan mudah tergantikan.
“Bisa jadi 30 sampai 50 tahun ke depan, kita belum tentu menemukan sosok seperti beliau,” tegasnya.
Tahlilan dan doa bersama ini, lanjut SDK, bukan hanya bentuk penghormatan terakhir, tetapi juga menjadi penguat tekad untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis bersama almarhum.
Ia menegaskan, pembangunan Sulawesi Barat harus tetap berjalan di jalur yang sama, berpijak pada nilai, komitmen, dan harapan yang telah dibangun bersama Salim S Mengga.
“Kita harus kuat dan tegar. Jangan dibelok-belok jalannya. Kita ingin beliau tersenyum melihat kita tetap berada di jalur harapan dalam menjalankan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat Sulawesi Barat,” pungkas Suhardi Duka.










