Mamuju – Gerakan literasi di Sulawesi Barat memasuki fase baru yang lebih bergairah. Festival Literasi Sulbar Tahun 2025 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Provinsi Sulawesi Barat pada 19–21 November 2025 dipastikan menjadi momentum istimewa bagi penguatan budaya membaca di Bumi Tanah Mandar.
Agenda besar yang dipusatkan di Mamuju itu bakal menghadirkan tamu kehormatan: Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Prof. E. Aminudin Aziz. Kehadirannya tidak sekadar seremonial, melainkan membawa misi strategis—membedah buku dan mengukuhkan Bunda Literasi Sulbar sebagai bagian dari penguatan Gerakan Literasi melalui Program Sulbar Mandarras, gagasan Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga.
Kegiatan Bedah Buku dan Pengukuhan Bunda Literasi akan berlangsung pada 20 November 2025, tepat di hari kedua festival. Momen ini diyakini menjadi pendorong kuat bagi upaya memperluas akses literasi sekaligus meningkatkan minat baca masyarakat, mulai dari pelajar hingga komunitas pegiat literasi.
Kepala Dinas Perpusip Sulbar, Mustari Mula, saat dikonfirmasi Senin, 17 November 2025, membenarkan rencana kehadiran pimpinan tertinggi Perpusnas RI itu.
“Sesuai informasi dari Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca, Ibu Liviyanti, Kepala Perpusnas RI akan hadir di Festival Literasi Sulbar Tahun 2025 untuk melakukan Bedah Buku dan mengukuhkan Bunda Literasi Sulbar,” jelas Mustari.
Ia pun menyampaikan apresiasi dan rasa optimis atas kehadiran Prof. Aminudin Aziz di Sulawesi Barat.
“Kami sangat menyambut baik rencana ini. Kehadiran Kepala Perpusnas RI di Sulbar tentu akan memberikan energi baru bagi gerakan literasi di Sulbar,” ungkapnya.
Festival Literasi Sulbar 2025 diproyeksikan menjadi etalase kemajuan literasi daerah, wadah kolaborasi pegiat literasi, serta ruang edukasi publik yang memperteguh komitmen Sulbar menuju masyarakat yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing.
Dengan hadirnya Perpusnas RI, gelaran ini diyakini bukan hanya sekadar festival—melainkan titik lonjak bagi masa depan literasi Sulawesi Barat.










