Mamuju — Suasana Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Mamuju mendadak ramai dan penuh energi intelektual, Rabu (19/11/2025). Bedah buku Teror Moral yang digelar Lingkar Literasi Insentif (Lintas) Mamuju sukses menyedot perhatian puluhan mahasiswa, dengan menghadirkan Baiq Sukma Widiawati—jurnalis sekaligus Bidang Pemberdayaan Perempuan IJS—sebagai salah satu pemateri utama.
Acara ini menghadirkan tiga pembicara kompeten, yakni Bung Gie Sugianto, Muh. Fiqra Haikal, serta Baiq Sukma Widiawati yang tampil memukau melalui perspektif jurnalisme dan isu pemberdayaan perempuan dalam membaca fenomena moralitas di tengah masyarakat.
Diskusi dibuka dengan pemaparan mendalam mengenai isi buku Teror Moral, kemudian dilanjutkan sesi dialog interaktif selama dua jam. Suasana diskusi berlangsung dinamis—bahkan memanas—ketika peserta mulai mengaitkan isu moralitas dengan realitas sosial, peran media, serta tantangan generasi muda dalam menghadapi arus informasi digital.
Tak kurang dari 60 mahasiswa dari berbagai kampus di Mamuju turut memadati ruangan. Antusiasme mereka terlihat dari banyaknya pertanyaan kritis yang dilontarkan, terutama terkait fenomena sosial dan dinamika moral di era modern.
Dalam penyampaiannya, Baiq Sukma menekankan pentingnya ruang-ruang literasi yang kritis dan terbuka bagi generasi muda.
“Semoga kegiatan ini menjadi ruang positif yang menambah wawasan mahasiswa dalam melihat serta mengkritisi kondisi sosial saat ini,” ujarnya.
Acara dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Mamuju, Muh. Fauzan. Ia mengapresiasi tingginya partisipasi generasi muda dalam kegiatan literasi yang digelar di lingkungan perpustakaan.
“Saya berharap perpustakaan setiap hari ramai seperti ini. Ke depan, perpustakaan harus menjadi pusat pembelajaran dan memberi dampak positif bagi semua,” tegasnya.
Bedah buku ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan literasi di Mamuju, sekaligus mendukung program pemerintah Sulbar, Mandarras, dalam memperkuat budaya membaca dan ruang diskusi publik.
Kegiatan ini bukan sekadar bedah buku—tetapi sinyal kuat bahwa geliat literasi di Mamuju kembali bangkit dan siap mencetak generasi yang lebih kritis, peduli, dan progresif.










